Pernikahan Tenang Tanpa Konflik, Makin Harmonis atau Tanda Pasrah?

Tim Parapuan Connect - Sabtu, 3 Oktober 2026
Ilustrasi suasana kepasrahan di antara pasangan suami istri
Ilustrasi suasana kepasrahan di antara pasangan suami istri Dok.Unsplash

Parapuan.co - Punya kehidupan rumah tangga yang adem ayem dan jauh dari pertengkaran hebat tentu jadi impian hampir semua pasangan. Saat suasana rumah terasa sepi dari drama adu argumen, kita kerap merasa bahwa hubungan justru sedang berada di titik paling dewasa dan harmonis.

Tetapi, pernahkah Kawan Puan berpikir kalau keheningan yang datang tiba-tiba itu sebenarnya tak selalu mencerminkan kedamaian sejati? Kadang kala, suasana adem ayem ini justru menyimpan sinyal bahaya yang diam-diam menyelimuti perasaan salah satu pihak.

Lantas, bagaimana cara membedakan keheningan dari rasa bahagia dan mana yang berakar dari kepasrahan emosional? Yuk, kita bedah bersama ulasannya supaya lebih peka memahami isi hati pasangan!

Dilansir dari psychologytoday, dalam sebuah hubungan pernikahan, idealnya kedua belah pihak sama-sama aktif untuk merawat kehangatan serta keintiman. Namun realitas di lapangan sering kali hanya ada satu orang yang terus berupaya keras menghidupkan hubungan tersebut. 

Pihak yang aktif ini mungkin sudah bertahun-tahun mencoba merangkul pasangan, merencanakan kencan romantis, mengajak konsultasi, hingga rutin membagikan bacaan seputar hubungan. Sayangnya, niat baik dan usaha tulus tersebut terus-menerus diabaikan atau tak diimbangi dengan baik oleh pasangannya.

Saat upaya untuk saling terhubung emosional berulang kali bertepuk sebelah tangan, rasa perih dan kecewa tentu bakal makin menumpuk. Hingga akhirnya, sosok yang dulunya paling gigih memperjuangkan hubungan ini mulai lelah dan pelan-pelan memilih menyerah.

Mereka tak lagi bersemangat mengajak diskusi, berhenti meminta perhatian, dan menutup rapat-rapat curahan hatinya. Di titik inilah, grafik pertengkaran di dalam rumah tangga biasanya bakal merosot tajam.

Minimnya konflik ini sering kali mengecoh dan menutupi kenyataan pahit bahwa keintiman emosional di antara suami istri sebenarnya sudah sirna. Keheningan yang tercipta bukanlah bentuk penerimaan yang tulus, melainkan pertanda bahwa seseorang sudah di tahap angkat tangan.

Sikap pasrah ini menjadi pertanda kalau pasangan sudah tak lagi percaya bahwa kebutuhan emosionalnya akan didengar atau dipenuhi. Mereka memilih bungkam karena sadar, bicara ribuan kali pun tak akan pernah mengubah keadaan.

Situasi seperti ini sangat rentan membuat pasangan yang kurang peka merasa terkecoh. Pihak yang pasif justru merasa lega dan mengira hubungan mereka sedang membaik hanya karena tak ada lagi omelan, tuntutan, atau perdebatan.